Faktor Penentu Literasi Digital di Era Transformasi Digital


Transformasi digital yang semakin masif telah mengubah cara manusia belajar, bekerja, dan berinteraksi. Dalam konteks ini, literasi digital menjadi kompetensi kunci yang menentukan sejauh mana individu mampu beradaptasi dan berpartisipasi secara efektif dalam masyarakat digital. Literasi digital tidak lagi terbatas pada kemampuan teknis menggunakan perangkat, melainkan mencakup pemahaman kritis, pemanfaatan teknologi secara strategis, serta kemampuan menciptakan perubahan melalui teknologi.

Artikel ini membahas faktor-faktor yang memengaruhi literasi digital berdasarkan kajian sistematis terhadap penelitian-penelitian empiris dalam lima tahun terakhir. Literasi digital dipahami sebagai konsep bertingkat yang terdiri atas tiga level, yaitu kompetensi digital, penggunaan digital, dan transformasi digital.

Pada level kompetensi digital, literasi digital berkaitan dengan keterampilan dasar, pengetahuan, serta sikap individu terhadap teknologi digital. Hasil kajian menunjukkan bahwa tingkat pendidikan yang lebih tinggi, kondisi sosial ekonomi yang lebih baik, serta usia berperan penting dalam membentuk kompetensi digital seseorang. Individu dengan akses pendidikan yang memadai cenderung memiliki kemampuan digital yang lebih baik dan lebih percaya diri dalam menggunakan teknologi.

Level kedua, yaitu penggunaan digital, merujuk pada bagaimana kompetensi tersebut diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Faktor utama yang memengaruhi penggunaan digital adalah ketersediaan perangkat teknologi dan akses internet. Tanpa dukungan infrastruktur digital yang memadai, keterampilan digital yang dimiliki individu sulit untuk diimplementasikan secara optimal.

Sementara itu, transformasi digital merupakan level tertinggi dalam literasi digital. Pada tahap ini, individu tidak hanya menggunakan teknologi, tetapi juga mampu memanfaatkannya untuk menciptakan inovasi, mengubah pola perilaku, serta meningkatkan kualitas pengambilan keputusan. Transformasi digital banyak ditemukan dalam konteks kesehatan, di mana individu dituntut untuk mengelola informasi kesehatan, menggunakan aplikasi digital, dan berpartisipasi aktif dalam pemeliharaan kesehatannya sendiri.

Meskipun literasi digital semakin banyak diteliti, masih terdapat berbagai keterbatasan dalam pengembangan keilmuan di bidang ini. Penelitian yang ada menunjukkan perbedaan definisi dan alat ukur literasi digital, keterbatasan kajian pada aspek transformasi digital, serta dominasi penelitian dari negara-negara maju. Kondisi ini menunjukkan perlunya pendekatan penelitian yang lebih inklusif dan komprehensif.

Sebagai implikasi, penguatan literasi digital tidak dapat hanya berfokus pada peningkatan keterampilan individu, tetapi juga harus memperhatikan konteks sosial, akses teknologi, sistem pendidikan, dan kebijakan publik. Literasi digital perlu dipahami sebagai hasil interaksi antara individu dan lingkungannya, sehingga pengembangannya memerlukan pendekatan yang terintegrasi dan berkelanjutan.

Sumber : LuΓ­s, S., Portugal, E., Farias, A. R., SΓ΄ro, J., Cabral, J., Costa, L. P. da, Ferreira, M. J., Loureiro, A., Silva, V. H., Chambel, J., Fialho, A. R., Domingos, S., PossidΓ³nio, C., & Moura, R. (2025). Predicting digital literacy: A systematic review of digital competence, usage, and transformation. Human Behavior and Emerging Technologies, 2025, Article ID 6046935.

0 $type={blogger}:

Post a Comment